svckid, Teheran – Militer Iran menggelar latihan perang besar-besaran di sekitar wilayah perairan strategis Selat Hormuz pada Rabu. Langkah ini merupakan bentuk kewaspadaan Teheran terhadap ancaman serangan militer Amerika Serikat.
Otoritas setempat merilis Notice to Airmen atau NOTAM sebagai pemberitahuan navigasi udara terkait adanya aktivitas tembakan langsung. Wilayah udara pada radius 9,2 kilometer dinyatakan sebagai zona berbahaya bagi penerbangan.
Latihan tempur tersebut berlangsung di tengah pengerahan aset militer Washington, termasuk kapal induk, ke kawasan Timur Tengah. Situasi keamanan di jalur perdagangan dunia tersebut kini dalam status siaga tinggi.
Eskalasi Militer di Kawasan Teluk
Aktivitas militer di perairan tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga 29 Januari mendatang. Pembatasan wilayah udara diberlakukan dari permukaan tanah hingga ketinggian mencapai 25.000 kaki secara ketat.
Latihan perang ini dilakukan secara bersamaan dengan latihan kesiapan tempur yang digelar Angkatan Udara Amerika Serikat. Komando Pusat AS mengklaim tindakan tersebut bertujuan menunjukkan kemampuan dukungan tempur udara cepat.
Negara pimpinan Ali Khamenei ini menegaskan kesiapan pasukannya dalam mempertahankan kedaulatan wilayah dari intervensi asing. Setiap pergerakan armada laut di Selat Hormuz kini dipantau secara intensif oleh radar.
Ketegangan terus memuncak setelah Washington mengerahkan armada besar ke posisi yang sangat dekat dengan perbatasan. Kedua belah pihak kini berada dalam posisi siaga tempur di wilayah Teluk.
Dampak Geopolitik dan Ketegangan Domestik
Hubungan kedua negara memburuk pasca penindakan demonstrasi antipemerintah di Iran yang memicu kecaman keras dari dunia internasional. Presiden Donald Trump dilaporkan sempat mempertimbangkan serangan langsung terhadap berbagai target rezim.
Meski keputusan serangan ditunda, Amerika Serikat menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka terhadap Teheran. Gedung Putih terus memantau perkembangan hak asasi manusia dan stabilitas politik di wilayah tersebut.
Pejabat tinggi Iran memberikan peringatan keras bahwa setiap serangan akan memicu respons cepat dan komprehensif. Ancaman balasan ini ditujukan untuk mencegah eskalasi kekuatan yang lebih besar dari pihak lawan.
Ketegangan ini berdampak pada ketidakpastian jalur navigasi udara dan laut di salah satu koridor energi terpenting. Pelaku pasar global kini mencermati potensi gangguan pasokan minyak akibat latihan militer tersebut.
Saling gertak kekuatan militer di kawasan Timur Tengah ini memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik terbuka. Diplomasi internasional kini terus diupayakan untuk meredam potensi perang besar di kawasan Teluk.